Aceh Tamiang – Di tengah lumpur yang masih mengendap dan rumah-rumah warga yang belum sepenuhnya pulih, apresiasi datang dari dunia akademik untuk langkah cepat jajaran Polda Aceh dalam menangani dampak bencana hidrometeorologi di Tanah Rencong.
Guru Besar UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., menilai kehadiran polisi secara langsung di lokasi terdampak menjadi bukti bahwa tugas kepolisian tak sebatas penegakan hukum. Lebih dari itu, ada sentuhan kemanusiaan yang nyata dirasakan masyarakat.
Menurut Prof. Eko, yang dikenal sebagai peneliti pengurangan risiko bencana, respons cepat aparat di lapangan memberi rasa aman sekaligus harapan bagi warga yang sedang berada dalam situasi sulit akibat banjir dan longsor.
“Ini wujud pelayanan yang humanis dan patut menjadi contoh. Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolda Aceh, Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M., beserta seluruh jajaran atas kesigapan dan dedikasinya,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Ia menegaskan, penanganan pascabencana dilakukan secara cepat dan terukur, menyasar langsung kebutuhan masyarakat. Langkah strategis yang diambil Kapolda Aceh disebutnya sejalan dengan arahan Prabowo Subianto serta kebijakan Kapolri yang menempatkan penanggulangan bencana sebagai salah satu prioritas Polri.
“Keseriusan itu terlihat dari kehadiran personel di lapangan. Bukan sekadar simbolis, tetapi kerja nyata yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Sejak bencana hidrometeorologi yang dipicu cuaca ekstrem dan pengaruh Siklon Tropis Senyar melanda Aceh pada akhir November 2025, aparat kepolisian bergerak cepat. Puncak banjir bandang dan longsor terjadi pada 26 November 2025, meninggalkan kerusakan luas di berbagai wilayah.
Data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sedikitnya 18 kabupaten/kota terdampak. Ratusan ribu warga terimbas, puluhan ribu rumah mengalami kerusakan, serta korban jiwa dan kerugian materi tak terhindarkan.
Wilayah yang mengalami dampak paling parah antara lain Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Aceh Utara. Ribuan warga mengungsi, akses transportasi terputus, dan endapan lumpur hingga dua meter sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Dalam situasi tersebut, Polda Aceh mengerahkan personel secara masif untuk mendukung operasi kemanusiaan. Evakuasi korban, distribusi logistik, hingga pembersihan lumpur di rumah warga, masjid, meunasah, sekolah, dan fasilitas umum dilakukan secara intensif.
Tak hanya itu, polisi juga membantu penyediaan air bersih, mendirikan pos layanan kesehatan, serta memberikan pendampingan psikososial bagi para korban yang mengalami trauma.
Bagi Prof. Eko, langkah-langkah tersebut mencerminkan wajah Polri yang responsif dan hadir di tengah masyarakat, terutama saat rakyat membutuhkan uluran tangan.
Hingga kini, proses pemulihan masih terus berlangsung. Pembukaan akses jalan, percepatan distribusi bantuan, serta koordinasi pemerintah pusat dan daerah untuk pembangunan hunian tetap dan rehabilitasi infrastruktur menjadi fokus lanjutan, agar masyarakat terdampak dapat kembali bangkit dan menata kehidupan mereka. (*)

.jpeg)
